Terbaru

latest

Timur Tengah

Timur Tengah

Palestina

Palestina

Suriah

Suriah

Mesir

Mesir

Turki

Turki

VIDEO

Headline

Berita Foto

Headline

Biadab, Zionis Israel Serang Utara Kota Gaza

Tidak ada komentar
Kota Gaza (huffpost)

Seorang nelayan Palestina terluka parah pada hari Rabu (9 Agustus 2017) dalam sebuah serangan pesawat tempur Zionis Israel di utara kota Gaza.

Aiman As-Sahbani, Kepala Bagian Penerimaan dan Instalasi Gawat Darurat di Rumah Sakit Asy-Syifa Gaza mengabarkan hal tersebut.

“Seorang warga Palestina terluka parah oleh pecahan peluru di bagian kepala akibat serangan Israel di utara Jalur Gaza,” ujarnya seperti diberitakan kantor berita Turki, Anadolu.

As-Sahbani menambahkan, bahwa para dokter yang bertugas menyebutkan luka korban sangat serius.

Sebelumnya, pada hari Rabu dini hari, pesawat tempur Israel telah melancarkan serangan udara di utara Kota Gaza, namun tidak ada korban yang dilaporkan dalam peristiwa tersebut.

Menurut penuturan saksi mata kepada Anadolu, helikopter Israel mengebom dua lahan pertanian yang terletak di sebelah utara Kota Gaza, yang menyebabkan kerusakan pada bangunan di sekitar lokasi tersebut.

Pada hari Selasa (8 Agustus 2017), sebuah roket menghantam Ashkelon, wilayah jajahan Israel yang dekat dengan perbatasan Jalur Gaza.

Saluran televisi berbahasa Ibrani melaporkan bahwa rudal tersebut mendarat di tempat terbuka, tanpa menimbulkan korban atau kerusakan.

Sampai saat ini, tidak ada pihak manapun yang mengaku bertanggung jawab atas peluncuran roket tersebut.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Muzammil Hasballah: Bacaan Saya Tidak Bagus, Suara Saya Fals

Tidak ada komentar
Muzammil Hasballah (masjidtrans)

Suara merdu, hafal Al-Qur`an dan tampilan keren adalah ciri khas qari yang digandrungi para remaja dan pemuda ini. Ya, dialah Muzammil Hasballah, qari (pembaca Al-Qur`an) dan hafiz (penghafal Al-Qur`an) muda yang berasal dari Provinsi Aceh.

Beberapa waktu lalu, Bersamadakwah berkesempatan berbincang-bincang dengan Muzammil ketika berkunjung ke Masjid Darussalam Kota Wisata.

“Bacaan saya tidak bagus. Ada yang saya anggap fals, tapi masih merdu kata orang-orang,” tuturnya.

“Suara seperti ini masih dibilang fals, bagaimana merdunya?” tanya Bersamadakwah.

Mendengar pertanyaan tersebut Muzammil hanya tersenyum.

Qari yang juga arsitek lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu mengakui, hingga saat ini masih terus belajar kepada beberapa orang syaikh qari dan hafizh, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
 
Salah satu qari favoritnya adalah syaikh Sa’ad Al-Ghamidi dari Arab Saudi.

“Bacaan beliau bagus, banyak maqam yang dia gunakan dalam bacaannya,” kata Muzammil.

Di antara ciri khas bacaan Muzammil adalah maqam (langgam) Kurdi.

“Favorit saya adalah maqam Kurdi dan Nahawand,” terangnya.

Ketika ditanya kapan belajar maqam, Muzammil mengatakan bahwa dia sudah mendalami maqam mujawwad semenjak duduk di bangku sekolah menengah. Adapun maqam murattal, baru ia dalami semenjak kuliah.

Munculnya banyak hafiz dan qari muda di Indonesia patut diapresiasi. Sebab, mereka bisa menjadi figur bagi anak-anak muda lain untuk menghafal Al-Qur`an dan suka ke masjid.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Ustadz Adi Hidayat: Kita Semua Salafi

Tidak ada komentar
Ustadz Adi Hidayat, Lc, MA (istimewa)

Beberapa waktu lalu, warganet (netizen) pernah terusik oleh rekaman dari seorang ustadz yang mengkritik gaya berdakwah Ustadz Adi Hidayat, salah satunya dengan penyebutan nomor ayat dan surat tertentu untuk membahas sebuah permasalahan.

Pesan ini tersebar melalui aplikasi Whatsapp dan media sosial lainnya seperti Facebook dan Twitter.

Sang ustadz itu mengklaim, bahwa Ustadz Adi Hidayat menyalahi sunnah atau tidak mengikuti manhaj yang benar seperti dicontohkan salafush-shalih (pendahulu yang shalih dari kalangan umat Islam).

Dalam kajian setelah shalat Maghrib, Ahad (6 Agustus 2017), di Masjid Darussalam Kota Wisata, Ciangsana, Bogor, Ustadz Adi Hidayat secara tidak langsung membantah pernyataan orang-orang yang mengkritiknya itu.

Dalam kajian yang berjudul “Antara Manhaj dan Madzhab” itu, ustadz Adi Hidayat menjelaskan definisi-definisi yang selama ini jarang diketahui oleh masyarakat awam.

Dengan bahasa yang lugas dan bernas, Ustadz Adi memaparkan tentang definisi ad-din (agama), manhaj (metode), minhaj (pedoman hidup), Syari’ (yang mengatur agama), syariat (aturan agama), syir’ah (jalan agama), dan madzhab (pendapat dalam sebuah masalah agama).

Kajian yang dihadiri oleh sekitar 3.000 orang itu dilaksanakan selepas Maghrib hingga adzan Isya berkumandang. Setelah shalat isya kajian pun dilanjutkan.

Setelah menjelaskan sekian banyak definisi, Ustadz Adi bertanya, “Apakah Ustadz Adi Hidayat salafi?”

Mendengar pertanyaan itu, para jamaah tersenyum. Dengan gayanya yang khas, ustadz Adi menjelaskan definisi Salaf, Salafi, dan Salafiyyah.

“Salaf adalah generasi terdahulu, shalih artinya orang-orang yang shalih. Mereka disebut salafush-shalih,” terangnya.

Umat Islam yang mengikut metode yang benar untuk memahami Al-Qur`an dan sunnah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dengan pemahaman salafush-shalih disebut salafi.

“Jadi, salafi itu bukan sebuah kelompok,” tuturnya.

Ustadz Adi menyebutkan, semua imam madzab yang ada merupakan salafi.

“Imam Abu Hanifah, Imam Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi’i, Imam Ahmad bin Hanbal, semuanya adalah salafi,” lanjutnya.

Selain itu, Ustadz Adi juga menyindir sebagian dai yang tidak paham dengan metode berdakwah di lingkungan masyarakat Indonesia.

Ada yang memvonis orang lain telah berbuat bid’ah karena biasa melakukan qunut subuh atau mengeraskan bacaan basmalah di awal surat Al-Fatihah, padahal pendapat tersebut berasal dari salah satu Imam madzhab yang sudah diakui keilmuannya.

Di akhir kajian, ustadz Adi mengatakan, bahwa jika dirinya hanya membuat para jamaah menjauh dari pemahaman yang benar, maka silakan mencari ustadz lain yang lebih mumpuni dalam ilmu agama.

Ustadz Adi juga meminta, jika ada kesalahan dalam penyampaiannya, silakan hubungi dia dan koreksi kesalahannya.

Sekitar pukul 20.45 WIB, Ustadz Adi menutup kajiannya. Para jamaah yang hadir begitu antusias untuk menyalaminya dan berfoto-foto dengannya.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Cabut Status Badan Hukum HTI, Ini Alasan Kemenkumham

Tidak ada komentar
Massa Hizbut Tahrir Indonesia (Viva)

Hari ini, Rabu 19 Juli 2017 pengumuman pencabutan status badan hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) telah disampaikan oleh Freddy Harris Freddy Harris yang menjabat sebagai Direktur Jenderal Administrasi Hukum Umum Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Dirjen AHU Kemenkumham) di Jakarta.

Menurut Freddy Harris, Kemenkumham mempunyai kekuasan untuk mengatur dan mengesahkan perkumpulan dan organisasi kemasyarakatan di Indonesia.

Sehingga, perkumpulan dan ormas apapun yang telah memenuhi administrasi akan diberikan Surat Keputusan (SK) pengesahan Badan Hukum. Namun, jika perkumpulan dan ormas tidak memenuhinya, maka tentu tidak akan diberikan SK tersebut.

Terkait pencabutan status Badan Hukum Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Freddy Harris menyatakan bahwa itu berdasarkan pada Perppu Nomor 2 Tahun 2017.

Menurut Freddy, pencabutan SK dilakukan terhadap perkumpulan atau ormas yang melakukan kegiatan yang bertentangan dengan Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Terkait kasus HTI, lanjut Freddy Harris, meskipun dalam AD/ART mereka mencantumkan Pancasila sebagai ideologi namun fakta di lapangan menunjukkan bahwa kegiatan mereka bertentangan dengan Pancasila.

“Mereka mengingkari AD/ART sendiri.” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Freddy juga mengatakan seandainya ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan keputusan ini dipersilakan untuk mengambil langkah hukum.

“Silahkan mengambil jalur hukum,” tuturnya seperti dikutip dari antaranews.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Beginilah Perlakuan Rasis Warga Iran Terhadap Arab

Tidak ada komentar
Toko pakaian di Iran (Pinterest)

Sebuah tulisan rasis yang berada di sebuah toko di kota Masyhad, Timur Laut Iran, menggemparkan dunia maya Timur Tengah. Pasalnya, di toko mainan anak-anak tersebut terpampang tulisan di secarik kertas besar dengan tiga bahasa yaitu Arab, Inggris dan Persia, yang melarang orang-orang Arab masuk.

Mamnu’ Dukhul A’rab, Arabian Not Allowed, Wurud A’rab Mamnu’

“Orang-orang Arab Dilarang Masuk” begitulah tulisan yang ditempel di bagian depan toko tersebut.

Selain tulisan, di kertas tersebut juga ada wajah orang arab yang diberi garis menyilang sebagai isyarat larangan masuk.

Kota Masyhad merupakan salah satu kota suci penganut Syiah. Sehingga, pengunjungnya juga beragam. Ada yang berasal dari Arab dan non Arab.

Kota tersebut sering dikunjungi karena di sana terdapat kuburan Imam Reza berada, yaitu Imam kedelapan menurut paham Syiah.

Perlu diketahui, kota ini tidak dikunjungi oleh orang-orang arab yang berpaham sunni sama sekali. Sebagian besar pengunjung kota Masyhad adalah orang-orang Arab Syiah yang berasal dari Irak, Kuwait, Bahrain, Yaman, Uni Emirat Arab, Lebanon.

Perlakuan rasis Iran terhadap Arab ini sudah berulang kali terjadi. Menurut catatan Al-Arabiya, sebelumnya di sebuah klinik dokter mata di kota Iran ada tulisan spanduk yang berbunyi “Mohon maaf, tidak melayani pasien Arab.”

Selain itu, seorang penyair Iran melantunkan bait-bait syair yang melabelkan sifat-sifat yang jelek bagi orang-orang arab. Ada pula penyanyi Rap Iran yang membawakan lagu berjudul “Bunuh saja orang Arab.”

Masih banyak lagi perlakuan rasis yang dilakukan oleh orang-orang Syiah Iran terhadap warga Arab.

Perlakuan ini tidak heran, karena orang-orang Syiah pun suka memaki-maki sebagian besar shahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mereka anggap sebagai orang-orang sesat.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Wow, di Negeri Ini, Selama Bulan Ramadhan Dilarang Bercerai

Tidak ada komentar
Ilustrasi (gatenbylaw)

Setiap negara mempunyai ciri khas tersendiri dalam menyambut dan mengisi bulan Ramadhan. Ada yang unik, ada pula yang menggelitik. Di antaranya adalah larangan bercerai selama bulan Ramadhan.

Larangan tersebut diberlakukan di sebuah negara Timur Tengah, Palestina. Ketua Mahkamah Agung Palestina Mahmud Al-Habbas, beberapa waktu lalu mengumumkan kepada semua pengadilan agama di seluruh Palestina untuk tidak melaksanakan sidang perceraian dengan semua alasannya selama bulan Ramadhan.

Menurut Mahmud yang juga menjabat sebagai Penasihat Presiden untuk Urusan Agama dan Hubungan Negara Islam itu, ketetapan tersebut berlaku umum berakhir bulan suci Ramadhan, kecuali dalam kondisi yang jika diperlukan atau darurat.

Dalam siaran pers yang dikirim Mahmud ke beberapa media Arab itu disebutkan, bahwa dirinya meminta semua hakim di pengadilan agama yang akan melangsungkan sidang dalam kasus perceraian karena kondisi darurat, mesti merujuk kepada keputusan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat dan Keluarga.

Sehingga, para hakim dapat mengetahui alasan yang penting atau tidak dari penggugat cerai.

Di samping itu, Mahmud juga menjelaskan bahwa prosedur ini diambil berdasarkan pengalaman para hakim yang telah menghadapi pengadilan kasus perceraian selama bulan puasa pada tahun-tahun sebelumnya.

“Selama bulan Ramadhan, sejumlah orang menunaikan semua kewajiban dengan sempurna. Ada pula yang mengurangi porsi makanan dengan alasan makan banyak dapat menimbulkan masalah.

Apalagi, pada siang hari di bulan Ramadhan, biasaya orang yang berpuasa berada dalam keadaan yang tidak stabil. Sehingga, keputusan yang dia ambil begitu cepat dan tidak proporsional,” ujarnya seperti dilansiri kantor berita Wafa.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Beri Artis Hadiah, Syaikh Ini Panen Kritik

Tidak ada komentar
Syaikh Dr. Muhammad Al-Arifi (masralarabia)

Dai kondang asal Arab Saudi Syaikh Dr. Muhammad Al-Arifi yang namanya mulai terkenal sejak tulisannya tentang hari Kiamat, beberapa hari lalu panen kritik. Soalnya, dia diketahui telah memberikan hadiah kepada sejumlah artis dan selebritis.

Untuk menjawab kritikan tersebut, Syaikh Al-Arifi menjelaskan bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memerintahkan kaum muslimin untuk saling memberikan hadiah seperti yang disebutkan dalam haditsnya, “Hendaklah kalian saling memberikan hadiah niscaya kalian akan saling mencintai.”

Di samping itu, Syaikh Al-Arifi juga mengemukakan alasan lainnya.

“Hadiah itu menghilangkan sakit hati,” ujarnya.

Dalam sebuah acara dialog di saluran televisi Al-Majd, Syaikh Al-Arifi pun menanggapi pertanyaan tentang alasan dirinya yang mengirimkan hadiah kepada beberapa awak media.

“Saya tidak pernah membeda-bedakan seseorang untuk diberikan hadiah,” tandasnya.

Lebih lanjut Syaikh Al-Arifi mengatakan, “Saya punya kantor yang ditugaskan untuk menghubungi para jurnalis. Untuk diketahui, karyawan saya punya seratusan nomor telepon jurnalis, penyanyi dan artis.”
 
Ketika ditanya tentang tujuannya membagi-bagikan hadiah kepada kalangan tersebut, Syaikh Al-Arifi pun menjelaskannya.

“Kita semua diperintahkan untuk menyeru manusia memeluk agama Allah. Oleh karena itu, saya juga memberikan hadiah kepada orang-orang Yahudi dan Nasrani. Saya mengirimkan hadiah ke sejumlah dosen di universitas Yahudi di Eropa.

Apakah pantas, jika saya mengirimi mereka hadiah sementara saya tidak melakukan hal yang sama kepada anak-anak (negeri) kita yang terjebak dalam kesalahan?” ujarnya seperti dikutip Ajel.

Lalu, apa hasilnya? Ternyata, orang-orang yang menerima hadiah berupa buku-buku Syaikh Al-Arifi dan mushaf Al-Qur`an tersebut mengucapkan terima kasih banyak atas kepeduliannya kepada mereka.

Dalam kesempatan itu, Syaikh Al-Arifi mengungkapkan, dia sangat heran terhadap beberapa orang yang senantiasa melontarkan kritik pedas terhadap sikapnya.

Jika menjauh dari para jurnalis, artis, dan penyanyi, dia dicap sebagai orang yang tidak mau mendakwahi kalangan artis dan dianggap telah mengkafirkan mereka karena sikapnya yang ekstrem.

Namun, sebaliknya, jika menjalin hubungan baik dengan kalangan tersebut, dia malah dituduh punya hubungan spesial dengan mereka.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

[Video] Masya Allah, Sebelum Bersyahadat, Remaja Ini Baca Al-Quran Dengan Suara Merdu

Tidak ada komentar
Mikha Fedro Gabriel Situmeang (Darussalam Foto)

Jika ada seseorang belajar qiraah (bacaan Al-Quran), lalu membaca Al-Quran dengan suara merdu, itu sudah biasa. Jika ada kaum muslimin yang pintar membaca Al-Quran, itu sudah sebuah kewajiban.

Yang aneh adalah jika ada orang yang mengaku Islam sejak kecil, namun tidak bisa membaca Al-Quran sama sekali. Lebih aneh lagi, ada orang Islam yang tidak mau mengerti dan memahami isi Al-Quran.

Pada acara Zakir Naik Visit Indonesia 2017 yang diselenggarakan bulan April silam, sejumlah mualaf di beberapa tempat, sebelum bersyahadat, melantunkan ayat suci Al-Quran dengan lancar.

Meskipun di antara mereka ada yang membaca dengan terbata-bata, namun intinya adalah bahwa siapa saja yang berkeinginan kuat untuk membaca Al-Quran pasti bisa.

Kejadian yang bisa dikatakan serupa dengan Zakir Naik Visit Indonesia itu juga dialami oleh jamaah Masjid Darussalam Kota Wisata setelah shalat Jum’at, 26 Mei 2017.

Seorang anak bernama Mikha Fedro Gabriel Situmeang, berumur 14 tahun dijadwalkan bersyahadat di masjid yang berada di kawasan elite tersebut.

Sebelum bersyahadat, Ketua Mualaf Center Darussalam, Hanny Kristianto mengatakan, bahwa Gabriel sudah bisa membaca Al-Quran dengan lancar.

Untuk membuktikannya, seorang ustadz yang akan membimbing Gabriel masuk Islam membuka mushaf Al-Quran secara acak, dan terbukalah Surat Hud.

Ustadz itu mempersilakan Gabriel untuk membaca ayat mana saja yang ingin dia baca. Tak dinyana, Gabriel mengatakan, bahwa dia akan membaca ayat yang disukainya, yaitu Surat Hud ayat 41.

Pada saat Gabriel membaca ta’awudz dan basmalah dengan begitu lancar dan suara merdu, sejumlah jamaah tampak menitikkan air mata.

Gabriel pun membaca ayat 41 dengan lancar. Hingga sampai pada akhir ayat 42, ustadz yang akan membimbingnya bersyahadat menghentikan bacaannya karena begitu takjub dengan bacaannya.

Berikut adalah video yang mengharukan itu seperti diupload oleh seorang netizen di akun Facebook-nya. Klik di sini.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Ummul Qura Percepat Azan Subuh? Ini Jawaban Mufti Saudi

Tidak ada komentar
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Syaikh (Safa)

Yang Mulia, Mufti Kerajaan Arab Saudi, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah Al-Syaikh, menanggapi berita hoax terkait penanggalan kalender Universitas Ummul Qura yang menetapkan waktu kumandang azan Subuh pada bulan Ramadhan 17 menit lebih cepat dibandingkan hari-hari di luar bulan Ramadhan.

Syaikh Abdul Aziz mengatakan,

“Berita itu adalah hoax dan propaganda menyesatkan yang tidak ada landasannya. Kabar ini disebarkan oleh orang-orang yang tidak mengetahui perkara tersebut.”

Dalam program “Fatwa” yang disiarkan Kanal Satu Arab Saudi (Al-Qanah Al-Ula), Syaikh Abdul Aziz juga menegaskan kebenaran dari penanggalan Ummul Qura.

“Semua rumor yang beredar tentang kalender Ummul Qura yang menetapkan waktu masuknya Subuh 20 menit atau 17 menit lebih cepat berasal dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Saya tegaskan, penanggalan Ummul Qura sudah benar dan bisa dijadikan pedoman. Tidak ada yang perlu diragukan soal itu,” kata Syaikh Abdul Aziz.


Untuk memperkuat argumennya, Syaikh Abdul Aziz Al-Syaikh menyatakan, bahwa perihal penanggalan Ummul Qura ini sebelumnya telah diteliti oleh Syaikh Abdul Aziz bin Baz Rahimahullah.

Dalam sebuah tulisannya, Syaikh Abdul Aziz bin Baz mengatakan bahwa dia pernah mengirimkan dua tim untuk meneliti penanggalan Ummul Qura, yang mana salah satunya diminta untuk pergi ke gurun yang jauh penerangan dan cahaya dan yang lainnya ke tempat yang terang.

Hasilnya, dua tim tersebut menyatakan bahwa terbitnya matahari sesuai dengan penanggalan Ummul Qura, tidak lebih lambat dan tidak pula lebih cepat dari fakta yang terlihat.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Arab Saudi Sebut Iran Dukung Aksi Terorisme, Ini Buktinya

Tidak ada komentar
Kelompok bersenjata Syiah Hutsi (mashable)

Dalam forum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang digelar pekan lalu, delegasi Arab Saudi mengatakan Iran telah menyebarkan informasi yang salah dan mendukung aksi terorisme di negara-negara Timur Tengah.

Sikap Iran tersebut, lanjut delegasi Saudi yang dipimpin oleh Abdullah bin Yahya Al-Mu’allimi itu, dapat mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah.

Di samping itu, dalam surat yang disampaikan delegasi Saudi kepada Sekretaris Jenderal PBB dan Presiden dan Dewan Keamanan PBB, dinyatakan bahwa Iran telah nyata-nyata melanggar hukum internasional.

“Mereka telah melakukan kejahatan perang yang bertentangan dengan perikemanusiaan,” ujarnya seperti dikutip situs Al-Arabiya.

Delegasi Saudi juga menyoroti keberadaan milisi bersenjata Iran di sejumlah negara Arab yang terus mengancam stabilitas dan perdamaian di kawasan itu.

“Tidak diragukan, rezim Iran telah memperlihatkan dukungannya terhadap aksi terorisme,” lanjutnya.

Dalam surat tersebut, delegasi Saudi mengungkapkan sejumlah bukti yang menguatkan argumennya bahwa Garda Revolusi Iran merupakan alat rezim untuk menyebarkan ideologi-ideologi ekstrem syiah dan terorisme di seluruh dunia.

“Garda Revolusi Iran mendukung milisi ekstremis dengan senjata, uang dan personel seperti kelompok Hizbullah (Lebanon) dan milisi sektarian di Irak,” tuturnya.

Delegasi Saudi juga menyatakan, sampai saat ini Iran masih terus mendukung pemberontak Syiah Hutsi di Yaman untuk menduduki negara itu dan mengancam keamanan negara Arab Saudi.

Surat Arab Saudi ini disampaikan untuk menanggapi surat Iran kepada Delegasi Keamanan PBB sebelumnya tentang kondisi kekinian di Timur Tengah.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Hak Karyawan Tak Dipenuhi, Pangeran Saudi Ini Terancam Diperkarakan

Tidak ada komentar
Pangeran Al-Walid bin Thalal (theweek)

Sejumlah mantan karyawan saluran televisi Al-Arab yang telah ditutup pada 6 Februari 2017 berniat memperkarakan pimpinan mereka yang tidak lain adalah Pangeran Al-Walid bin Thalal dari Kerajaan Arab Saudi.

Tindakan ini dilakukan karena setelah stasiun televisi berhenti beroperasi dan mereka diberhentikan, mereka tidak mendapatkan hak yang layak dan kompensasi apapun dari Pangeran Al-Walid.

Kanal Al-Arab yang disiarkan di Manama, ibukota Bahrain itu ditutup secara permanen karena tidak memenuhi syarat untuk mengudara secara penuh. Sehingga, semenjak pertama kali diluncurkan pada tahun 2011 lalu, stasiun televisi itu hanya mampu menyiarkan programnya selama beberapa jam saja dalam sehari.

Selama rentang waktu 6 tahun itu, statusnya masih siaran uji coba. Melihat hal itu, pangeran Al-Walid memutuskan untuk menutup stasiun televise Al-Arab.

Seorang mantan karyawan Al-Arab menyebutkan kepada Ajel, bahwa sekitar 80 orang berniat untuk menyampaikan keluhan kepada pihak manajemen kanal Al-Arab dan Pangeran Al-Walid bin Thalal.

Mereka menuntut keadilan karena telah dipecat secara tidak adil dan belum mendapatkan hak yang layak. Menurut mereka, seharusnya mereka mendapatkan uang sebesar lima kali gaji pokok, yang mencakup pesangon dan hak-hak lainnya.

Para karyawan itu juga akan mempersiapkan seorang pengacara yang bisa membantu untuk mendapatkan hak-hak mereka tersebut.

Seperti diketahui, kanal Al-Arab dimiliki oleh Pangeran Al-Walid bin Thalal yang juga merupakan Komisaris Utama Kingdom Holding Company. Adapun Direktur Utama kanal Al-Arab adalah Jamal Khasyqaji.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Iran Menari-Menari di Atas Korban Tragedi Mina

Tidak ada komentar
Jamaah haji (foxnews)

Pada Ahad (14 Mei 2017), Sekretaris Jenderal Komite Keamanan Nasional dan Kebijakan Luar Negeri Iran, Jamali Nubandijani, memberikan komentar pedas terkait penolakan Kerajaan Arab Saudi untuk memberikan diyat kepada korban tragedi Mina pada tahun 2015.

Menurut pihak Iran, kejadian tersebut merupakan tanggung jawab penuh Kerajaan Arab Saudi. Sehingga, pada tahun 2016 lalu, Iran melarang warganya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekah.

Sebagai gantinya, kaum syiah dari Iran, Lebanon, Yaman, dan sekitarnya melakukan haji tandingan ke Karbala, Irak.

Protes yang disampaikan oleh Jamali ini merupakan sikap yang membela diri dan menari-nari di atas korban tragedi Mina. Pasalnya, Kerajaan Arab Saudi sudah bersedia memberikan santunan kepada para korban yang berasal dari negara mana pun.

Menurut Jamali, Iran tidak akan menerima santunan dari Arab Saudi, namun mereka akan menerima diyat.

“Arab Saudi hanya ingin berlepas tangan dari undang-undang yang berlaku dan melupakan tragedi (Mina) itu,” imbuhnya seperti beritakan Ajel.

Dalam syariat Islam, diyat merupakan harta yang harus diberikan oleh pihak pelaku pembunuhan kepada korban yang dibunuh. Jika Iran meminta Arab Saudi untuk membayar diyat, maka itu merupakan permintaan yang tidak pada tempatnya dan sebuah keanehan.

Lebih aneh lagi, meskipun menyampaikan tuntutan agar Arab Saudi membayar diyat, Jamali juga berharap Iran bisa mengirimkan jamaah haji ke Mekah tahun ini.

Menurutnya, beberapa waktu lalu, pejabat Iran yang mengurusi haji dengan beberapa delegasi lainnya datang ke Arab Saudi untuk membicarakan banyak hal terkait pelaksanaan haji tahun ini.

“Di antaranya adalah pengkhususan tempat bagi jamaah haji asal Iran agar mereka aman dari gangguan jamaah lain,” tuturnya.

Seperti diketahui, absennya jamaah haji Iran pada tahun 2016 silam disyukuri banyak kalangan. Pasalnya, sejumlah bukti menyebutkan bahwa jamaah haji asal Iran sering membuat keresahan jamaah lain karena melakukan ritual-ritual di luar dari kelaziman menurut Ahlussunnah wal Jamaah.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Ribuan Warga Turki Peringati Penaklukan Konstantinopel Dengan Cara Ini

Tidak ada komentar
Shalat subuh berjamaah di halaman Hagia Sophia (Zete)

Peringatan Penaklukan Konstantinopel memang sudah menjadi suatu kebiasaan yang dilakukan di negara Turki. Pada tahun ini, tepat pada 564 tahun Penaklukan Konstantinopel, Asosiasi Pemuda Anatolia melaksanakan kegiatan yang menyedot perhatian media internasional.

Untuk memperingati hari tersebut, warga Turki diundang melaksanakan shalat subuh berjamaah pada hari Sabtu (13 Mei 2017) lalu di halaman masjid Hagia Sophia, salah satu masjid bersejarah di kota Istanbul.

Acara yang diikuti oleh ribuan warga Turki itu dimulai dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur`an oleh seorang qari.

Pada saat itu pula, para peserta yang hadir meminta pemerintah Turki agar mengembalikan fungsi masjid Hagia Sophia atau Aya Sofya sebagai tempat ibadah umat Islam setelah digunakan sebagai museum dan tempat wisata selama bertahun-tahun.

Acara ini dihadiri oleh Syaikh Usamah Rifai, Presiden Dewan Islam Suriah; Syaikh Muhammad Ali Al-Abbasi, Imam Masjid Al-Aqsha, dan Shalih Turhan, ketua bidang kepemudaan Asosiasi Pemuda Anatolia.

Sebelum pelaksanaan shalat Subuh yang diimami oleh Syaikh Muhammad Ali Al-Abbasi, acara dilanjutkan dengan lantunan nasyid oleh sekelompok pemuda, lalu ditutup dengan doa yang dibacakan oleh Syaikh Syaikh Usamah Rifai.

Dalam doa tersebut, Syaikh Usamah memanjatkan doa kepada Allah untuk kemaslahatan umat Islam di Turki secara khusus dan dunia pada umumnya.

Setelah shalat Subuh, acara dilanjutkan dengan orasi yang disampaikan oleh Shalih Turhan. Dalam orasinya itu, Turhan menyebutkan sejarah tentang masjid Hagia Sophia.

“Dahulu, banyak organisasi internasional yang berupaya tanpa henti selama bertahun-tahun untuk mengubah fungsi masjid Hagia Sophia menjadi sebuah museum. Mereka melakukan hal itu melalui tanda tangan palsu pada tahun 1934,” ujar Turhan seperti diutip situs albayan.

Turhan juga menegaskan, organisasinya akan selalu berjuang agar Hagia Sophia yang bersejarah itu kembali dibuka untuk ibadah.

“Permasalahan ini bukan hanya permasalahan saudara-saudara yang ada di Istanbul, tetapi juga permasalahan umat Islam di seluruh dunia,” tandasnya.

Pada bulan Mei di setiap tahun, umat Islam di Turki dan sejumlah negara Islam lainnya memperingati hari penaklukan Konstantinopel yang sekarang bernama Istanbul.

Konstantinopel merupakan kota bersejarah yang berhasil ditaklukkan oleh Sultan Muhammad Al-Fatih (Sang Penakluk), salah seorang sultan Dinasti Utsmaniyyah (Ottoman) pada tahun 1453 setelah sebelumnya dikuasai oleh Kekaisaran Bizantium.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]
© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup