Iran membuktikan ancamannya. Sebuah kapal tanker minyak dilaporkan tenggelam di Selat Hormuz setelah nekat melintasi zona terlarang
Iran membuktikan ancamannya. Sebuah kapal tanker minyak
dilaporkan tenggelam di Selat Hormuz setelah nekat melintasi zona terlarang
yang ditetapkan Garda Revolusi Iran (IRGC).
Selat Hormuz, jalur pelayaran paling krusial bagi pasokan
energi global, kini berubah menjadi zona tempur yang membara. Di tengah kepulan
asap hitam yang membubung dari perairan Teluk Oman, sebuah kapal tanker minyak
dilaporkan tenggelam setelah dihantam proyektil, menandai babak baru eskalasi
militer pasca-serangan udara AS-Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran.
Otoritas maritim Oman mengonfirmasi bahwa kapal tanker Skylight
yang berbendera Palau menjadi target serangan di posisi lima mil laut utara
Pelabuhan Khasab.
Pusat Keamanan Maritim Oman berhasil mengevakuasi 20 awak
kapal—terdiri dari 15 warga negara India dan 5 warga Iran. Empat di antaranya
dilaporkan menderita luka-luka dan telah dilarikan ke fasilitas medis di
Muscat.
Media pemerintah Iran secara terbuka menyatakan bahwa kapal
tersebut "tenggelam" setelah mencoba melintasi selat secara ilegal,
mengabaikan perintah penutupan total yang dikeluarkan oleh Garda Revolusi Iran
(IRGC). Bagi Teheran, tindakan ini adalah bentuk pertahanan diri yang sah
terhadap "entitas agresor" yang menggunakan jalur internasional untuk
memicu instabilitas.
Koresponden Al Jazeera melaporkan bahwa meskipun
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi sempat menyatakan Iran tidak berniat menutup
selat secara permanen, realitas di lapangan menunjukkan hal sebaliknya.
Melalui frekuensi radio VHF, IRGC secara tegas
memperingatkan: "Tidak ada kapal yang diizinkan melintas."
Citra satelit menunjukkan tumpukan kapal
tanker yang tertahan di pelabuhan Fujairah (UEA) dan pesisir Oman, karena para
pemilik kapal enggan mempertaruhkan aset mereka.
Harga minyak dunia melonjak seketika, memicu kekhawatiran
akan "kejutan minyak" (oil shock) global yang dapat melumpuhkan
ekonomi negara-negara berkembang.
Selain Skylight, IRGC mengeklaim telah menargetkan aset-aset
militer strategis, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, sebagai pembalasan
atas serangan "Epic Fury" yang dipimpin Washington.
Baca juga: Rudal Iran Tembus Iron Dome, 10 Zionis Tewas
Analis politik yang berbicara kepada Al Jazeera
menekankan bahwa tenggelamnya kapal tanker ini bukan sekadar insiden maritim
biasa. Ini adalah pesan simbolis dari Teheran bahwa mereka siap mengorbankan
jalur perdagangan dunia jika kedaulatan mereka terus diinjak-injak.
Di saat negara-negara Teluk seperti UEA dan Qatar juga
melaporkan hantaman rudal pada fasilitas infrastruktur mereka, dunia kini
menanti: apakah komunitas internasional akan mendorong gencatan senjata, atau
justru membiarkan kawasan ini terseret ke dalam perang semesta yang tidak
menyisakan pemenang.
"Hormuz bukan lagi sekadar selat; ia adalah barometer keberanian Iran menghadapi pengepungan total," ujar seorang analis senior di Doha. []


COMMENTS