Terbaru

latest

Benarkah Erdogan Protes Paus Fransiskus Soal Kursi Kecil?

Erdogan menolak untuk duduk di kursi yang telah disiapkan baginya karena lebih kecil dibandingkan kursi Paus?

Jumat, 09 Februari 2018

/ by Abu Syafiq
Paus Fransiskus dan Presiden Recep Tayyib Erdogan (Reuters)
Beberapa hari terakhir, dunia maya diramaikan oleh kabar bahwa Paus Fransiskus memberikan kursi khusus bagi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada saat ia mengunjungi Vatikan, Senin (5 Februari 2018).
 
Dalam berita yang tersebar melalui media sosial disebutkan, Erdogan menolak untuk duduk di kursi yang telah disiapkan baginya karena lebih kecil dibandingkan kursi Paus, sehingga Paus memerintahkan stafnya membawa kursi lain untuk Erdogan.

Erdogan diterima oleh Paus Fransiskus (eurasiareview)
Kabar ini ditepis oleh sejumlah media Turki, salah satunya surat kabar Milli yang menyebutkan bahwa kursi kecil yang dibawa oleh staf Paus bukan untuk Erdogan melainkan untuk penerjemah yang duduk di samping Paus. Hal ini dapat dilihat dalam potongan video dalam tautan ini.

Kursi kayu mewah yang sama dengan kursi Paus juga diperuntukkan bagi para tamu lainnya seperti Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Mei 2017, Presiden Mesir Abdul Fattah As-Sisi pada tahun 2014 dan Presiden Belarusia Aleksandr Lukashenko.

Abdul Fattah As-Sisi (rainews)
Donald Trump (AP)
Aleksandr Lukashenko (cedarnews)
Erdogan adalah presiden Turki pertama yang mengunjungi negara Vatikan semenjak lebih dari 59 tahun silam. Menurut surat kabar Yeni Shafak, Presiden Turki menghadiahi Paus sebuah gambar kuno Istanbul di samping buku-buku berbahasa Italia dan Inggris.


Sementara itu, Paus memberikan hadiah kepada Erdogan berupa medali yang melambangkan kedamaian.

Sebelumnya, pada saat kunjungan Paus ke Turki akhir 2016 silam, Erdogan juga menghadiahinya sebuah plakat yang memuat keputusan Sultan Muhammad Al-Fatih kepada para biksu Bosnia yang menjamin keamanan mereka dalam menjalani agama asalkan mereka mematuhi perintahnya.

Seperti diketahui, pada tahun 1918 Istanbul diduduki oleh pasukan Italia, Prancis dan Inggris. Lima tahun kemudian, pasukan tersebut meninggalkan Istanbul setelah menandantangani Perjanjian Lausanne pada 24 Juli 1923.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Don't Miss
© Bersamadakwah.net - BedaMedia Grup